Intinya: mengurangi jumlah produk pada kulit berjerawat dapat membantu menemukan sumber iritasi dan memudahkan konsistensi menjalankan rutinitas, tetapi bukan berarti jerawat kistik atau inflamasi dapat diatasi hanya dengan pembersih yang lembut dan pelembap.[1][2] Urutannya adalah menangani lesi inflamasi terlebih dahulu, lalu mengevaluasi masalah pori-pori dan tekstur kulit secara terpisah.

1111

Mengapa Ella Rubin menyederhanakan perawatan kulitnya?

Aktris Ella Rubin menjelaskan langsung dalam video Vogue ‘Beauty Secrets’ pada 3 September 2026 bahwa setelah mengalami jerawat kistik parah selama masa mogok kerja aktor, ia mulai lebih memperhatikan perawatan kulit.[1] Rutinitas yang diperlihatkannya relatif sederhana, berpusat pada pembersihan lembut, pelembap, dan serum. Ia juga memperkenalkan sikap untuk tidak menyembunyikan tekstur kulit alami maupun munculnya jerawat sesekali.

Yang penting di sini bukan membeli dan meniru produk tertentu yang digunakannya. Rutinitas pribadi seorang selebritas merupakan pengalaman satu orang, dan seluruh riwayat terapi maupun resep untuk jerawatnya tidak dipublikasikan. Karena itu, rutinitas tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai sesuatu yang telah ‘menyembuhkan jerawat kistik’.

Mengapa mengurangi produk dapat membantu memperbaiki jerawat?

Penggunaan beberapa eksfoliator, retinol, bahan asam, dan produk berpewangi kuat secara bersamaan dapat meningkatkan iritasi dan kekeringan, sehingga menyulitkan penggunaan obat jerawat secara konsisten. Jika rutinitas disederhanakan dengan berfokus pada pembersih, pelembap, dan tabir surya, akan lebih mudah mengetahui produk mana yang menyebabkan iritasi serta mempertahankan terapi resep secara teratur.

Namun, ‘rutinitas minimal’ tidak dapat menggantikan terapi jerawat

Pedoman jerawat dari American Academy of Dermatology (AAD) sangat merekomendasikan benzoil peroksida, retinoid topikal, dan antibiotik topikal, serta menganjurkan pendekatan yang mengombinasikan obat luar dengan mekanisme kerja berbeda.[2] Pada jerawat parah atau kasus yang tidak merespons terapi standar, terapi sistemik seperti isotretinoin juga dapat dipertimbangkan.[2]

Khususnya, nodul atau kista yang besar, dalam, dan terasa nyeri memiliki risiko menimbulkan bekas luka. Karena itu, hanya ‘menunggu hingga mereda’ mungkin tidak cukup. AAD mencantumkan suntikan kortikosteroid intralesi sebagai pilihan tambahan untuk mengurangi nyeri dan inflamasi pada lesi inflamasi besar dengan cepat.[2]

Apa yang sebaiknya dilakukan terlebih dahulu dalam keseharian saat kulit bermasalah?

1. Jangan memulai beberapa bahan aktif sekaligus

Jika bahan asam baru, retinoid, vitamin C berkonsentrasi tinggi, dan scrub dimulai secara bersamaan, akan sulit menemukan sumber iritasinya. Jika sedang menggunakan obat jerawat, stabilkan terlebih dahulu pelembap dasar dan perlindungan terhadap sinar matahari, lalu tambahkan bahan lain satu per satu.

2. Jangan memencet atau berulang kali menyentuh jerawat

Memencet lesi inflamasi dalam dengan tangan dapat meningkatkan inflamasi, hiperpigmentasi, dan risiko bekas luka. Pada lesi yang sangat nyeri atau membengkak dengan cepat, mencari cara untuk mengurangi inflamasi melalui konsultasi medis lebih baik daripada memencetnya di rumah.

3. Perlindungan terhadap sinar matahari juga berkaitan dengan penanganan hiperpigmentasi

Bekas kemerahan dan noda cokelat yang tertinggal setelah jerawat mereda dapat bertahan lebih lama akibat paparan sinar matahari. Jika khawatir kulit tampak berminyak, pilih formula ringan dengan label nonkomedogenik.

Kapan perawatan untuk pori-pori dan tekstur kulit perlu dipertimbangkan?

Saat masih terdapat banyak inflamasi aktif, prioritasnya adalah menstabilkan jerawat terlebih dahulu. Seolleim Clinic saat ini menyediakan program yang menargetkan pori-pori, sebum, dan tekstur kulit, termasuk Suntik Silky Moko, bersamaan dengan layanan konsultasi jerawat.[3][4] Namun, penjelasan dalam menu klinik merupakan materi untuk mengonfirmasi keberadaan program dan informasi dari klinik tersebut, bukan bukti bahwa efektivitasnya telah dibuktikan melalui uji klinis independen.

Karena itu, setelah jerawat inflamasi dikendalikan dengan terapi standar, konsultasi perawatan sebaiknya dipisahkan jika pori-pori yang membesar, sebum, atau tekstur kulit yang tidak rata masih menjadi keluhan utama. Jika terdapat bekas jerawat yang dalam, jangan mengelompokkannya sebagai masalah yang sama dengan pori-pori; evaluasi secara terpisah apakah diperlukan terapi lain sesuai bentuk bekas lukanya.

Pertanyaan yang sering diajukan

Jika skin barrier lemah, apakah semua obat jerawat harus dihentikan?

Tidak selalu. Jika iritasi parah, frekuensi dan jumlah pemakaian serta urutan penggunaan pelembap dapat disesuaikan. Namun, menghentikan semua obat secara sepihak dapat menyebabkan jerawat kembali memburuk. Yang penting adalah membedakan bahan mana yang menimbulkan iritasi, lalu menyesuaikannya.

Jika hanya muncul satu atau dua jerawat kistik, apakah harus mengonsumsi isotretinoin?

Tidak. Isotretinoin merupakan pilihan yang dipertimbangkan untuk jerawat parah atau kasus yang tidak merespons terapi standar dengan memadai.[2] Jumlah lesi, risiko bekas luka, dan respons terhadap terapi sebelumnya perlu dievaluasi secara menyeluruh.

Rekomendasi Direktur Kang Jeong-ha

Urutan tindakan sebaiknya dibuat sederhana dalam tiga langkah. Pertama, tetapkan pembersihan wajah pagi dan malam, pelembap, serta perlindungan terhadap sinar matahari sebagai rutinitas tetap, dan jangan menambah beberapa produk yang berpotensi mengiritasi secara bersamaan. Kedua, untuk jerawat inflamasi yang terasa nyeri atau dalam, prioritaskan terapi berbasis bukti seperti benzoil peroksida dan retinoid; untuk lesi besar, bila diperlukan, pertimbangkan metode pengendalian inflamasi yang cepat seperti suntikan intralesi.[2] Ketiga, jika pori-pori, sebum, dan tekstur kulit masih menjadi masalah setelah jerawat aktif stabil, pertimbangkan perawatan yang berfokus pada pori-pori, seperti Suntik Silky Moko, sebagai pilihan terpisah.[3] Dengan mengikuti urutan ini, kita dapat mengurangi risiko mencampur ‘terapi jerawat’ dan ‘perbaikan tekstur kulit’ sekaligus hingga berujung pada perawatan berlebihan.

Rentang efeknya juga perlu dibedakan. Obat jerawat bertujuan mengurangi munculnya lesi inflamasi baru, sementara suntikan intralesi merupakan tindakan tambahan untuk meredakan inflamasi besar dengan cepat.[2] Perawatan pori-pori dan tekstur kulit tidak memiliki peran yang sama dengan terapi obat standar untuk jerawat aktif. Respons pemulihan seperti kemerahan, memar, iritasi, atau efek emboss sementara dapat berbeda menurut jenis perawatan. Jika memiliki agenda penting, pastikan terlebih dahulu masa pemulihannya.

Foto profil Direktur Utama Kang Jeong-ha

Kisah kulit menarik untuk kulit yang sehat

Berdasarkan pengalaman dalam prosedur dermatologi yang dikumpulkan selama 16 tahun mengelola Seolleim Clinic Gangnam, kami menyampaikan dengan mudah dan akrab berbagai metode perawatan kulit yang dapat diterapkan dalam keseharian, serta kisah-kisah menarik tentang dermatologi dengan selebritas, figur publik, dan tayangan siaran sebagai topiknya. Melalui pengetahuan dan pengalaman profesional, kami ingin membantu kulit Anda tampak lebih sehat dan indah. Semoga serial ini memperluas pemahaman Anda tentang kulit dan membantu Anda menemukan cara untuk menyayangi diri sendiri.

Direktur Utama Kang Jeong-ha (Seolleim Clinic Gangnam)

Sumber